Latihan 1
Diketahui :
Qsx = 20 + 10 Px – 5C + 15 Tek.
Kondisi awal : Px = 5 Kondisi kedua : Px = 5
C = 10 C
= 15
Tek. = 15 Tek.
= 20
Berapa Qsx
nya dan analisiskan ?
Jawab :
I.
Qsx = 20 + 10 Px – 5C + 15 Tek.
Qsx = 20 + 10 (5) – 5 (10) + 15 (15)
Qsx = 20 +
50 – 50 +225
Qsx = 245
Δ Qsx = 50
II.
Qsx = 20 + 10 Px – 5C + 15 Tek.
Qsx = 20 +
10 (5) – 5 (15) + 15 (20)
Qsx = 20 +
50 – 75 + 300
Qsx = 295
-
Jika Px tetap, C naik dan
Teknologi Tetap
Qsx = 20 + 10 Px – 5C + 15
Tek.
Qsx = 20 + 10 (5) – 5 (15)
+ 15 (15) Qsx = -25
Qsx = 20 + 50 – 75 + 225
Qsx = 220
Δ Qsx = 50
-
Jika Px tetap, C tetap dan
Teknologi Naik
Qsx =
20 + 10 Px – 5C + 15 Tek.
Qsx =
20 + 10 (5) – 5 (10) + 15 (20) Qsx
= 75
Qsx =
20 + 50 – 50 + 300
Qsx = 320
Latihan 2
Diketahui : Qdx = 80
Py – 0,5 Py²
Jika
Py = 10 /Unit
Tentukan koefisien cross elastisitasnya?
Jawab
:
Qdx = 80 Py – 0,5 Py²
Ed
=
= 80 – Py
Qdx = 80 – Py Qdx = 80-10 = 70
Py
= 10 Qdx = 70 TR
= Qdx.Py = 700
Ed = -
= - 0,14
Barang
tersebut bersifat inelastis karena Ed < 1
Latihan
3
1.
Diketahui hubungan barang X
dan Y
Y
= 500 – 0,065 X²
Harga
= Px = 10
Py = 2
Berapakah jumlah barang X
dan Y agar tercapai kepuasan yang maksimum ?
2.
Manakah elastisitas silang
dari permintaan yang anda perkirakan positif (+) dan mana yang negatif (-) :
a.
Bola tenis dan Raket tenis
b.
Bola tenis dan bola golf
c.
Tukang gigi dan sikat gigi
d.
Tukang gigi dan permen
e.
Sirup dan es batu
Buatlah data hipotesisnya?
Jawab :
1.
Y =
500 – 0,065 X2
Px
= 10 Py = 2
I =
500
Px
(x) + Py (y) = I
10
(x) + 2 (500 – 0,065X2) = 500
10X
+ 2(500) . 2(-0,065X2) = 500
10X
+ 1000 – 0,13X2 = 500
-
0,13X2 + 10X +1000 -500 = 0
-0,13X2
+ 10X + 500 = 0
X12
= 
Tinjau
X1 = 
X1
= -34
Tinjau X2 = = 
X2 =
111
Y = 500 – 0,065 (-34)2
= 500-75
= 425
Konsumen akan memperoleh kepuasan maksimum
jika mengurangi
konsumsi barang X sebanyak 34 unit dan menambah konsumsi barang Y sebanyak 425
unit
2.a. Bola tenis dan Raket tenis
Px awal tenis = 30.0000 Px ke dua = 45.000
Qx awal raket tenis = 250 Qx ke dua = 115
Elastisitas
silang =
= -0,9
Bola tenis
dan Raket tenis memiliki koefisien elastisitas silang bernilai negatif karena nilai Ec = - 0,9 atau Ec
< 0.
b.
Px awal tenis = 20.0000 Px ke dua = 35.000
Qx awal golf = 400 Qx ke dua = 600
Elastisitas
silang =
= 0,90
Bola tenis
dan Bola golf memiliki koefisien elastisitas silang bernilai positif karena nilai Ec = 0,90 atau Ec > 0.
c.
Px tukang gigi = 80.000 Px kedua = 100.000
Qx sikat gigi = 125 Qx kedua = 275
Elastisitas
silang =
= 1,42
Tukang gigi
dan Sikat gigi memiliki koefisien elastisitas silang bernilai positif
karena nilai Ec = 1,42 atau Ec > 0.
d.
Px awal tukang gigi = 70.000 Px kedua = 90.000
Qx awal permen = 180 Qx kedua = 112
Elastisitas
silang =
= - 0,16
Tukang gigi
dan Permen memiliki koefisien elastisitas silang bernilai negatif karena nilai Ec = -
0,21 atau Ec < 0.
e.
Px awal sirup = 15.000 Px kedua = 22.000
Qx awal es batu = 25 Qx
kedua = 13
Elastisitas
silang =
= - 0,44
Sirup dan Es
batu memiliki koefisien elastisitas silang bernilai negatif karena nilai Ec = -
0,44 atau Ec < 0.
TEORI PERILAKU KONSUMEN
Tujuan utama konsumen adalah
mengkonsumsi suatu barang/jasa yang dijual di pasar adalah untuk memaksimumkan
kepuasan total (total satisfaction). Para ahli ekonomi menyebutkan kepuasan
total ini sebagai utilitas total (total utility) dari konsumen yang diperoleh
ketika mengkonsumsi suatu barang/jasa. Dengan demikian utilitas total (total
utility) dari konsumen yang diperoleh ketika mengkonsumsi suatu barang/jasa
dapat didefinisikan sebagai kepuasan total yang diperoleh dari sejumlah item
per periode waktu. Sehingga fungsi utilitas total menunjukkan hubungan antara
kepuasan total yang diterima melalui konsumsi barang/jasa dan tingkat konsumsi
dari konsumen itu.
Kepuasan
konsumen adalah suatu keadaan dimana kebutuhan, keinginan dan harapan konsumen
dapat terpenuhi melalui barang/jasa yang dikonsumsi, mengkonsumsi barang/jasa
akan menghasilkan kepuasan yang sering disebut guna/utility. Asumsi-asumsi
didalam teori prilaku konsumen antara lain :
1.
Asumsi rasionalitas, konsumen senantiasa berusaha menggunakan
pendapatannya, yang jumlahnya terbatas untuk memperoleh barang/jasa yang
menurut perkiraan akan mendatangkan
kepuasan maksimum.
Secara matematiknya :
M
= BL
M
= (Px1.Qx1) + (Px2.Qx2) + ... + (Pxn.Qxn)
Dimana : M = Pendapatan uang
konsumen
BL = Budget Line (garis anggaran
pengeluaran konsumen)
Px = Tingkat harga barang
Qx = Jumlah barang yang dikonsumsi
2.
Konsumen mempunyai pengetahuanyang sempurna. Konsumen diasumsikan
memiliki pengetahuan yang sempurna berkaitan dengan keputusan konsumsinya.
Teori
perilaku konsumen mengenal 2 macam pendekatan yaitu :
1.
Pendekatan kardinal atau teori kardinal disebut juga dengan
pendekatan nilai guna. Asumsi bahwa kepuasan konsumen dapat diukur secara
nominal.
2.
Pendekatan teori ordinal atau teori ordinal disebut juga
denganpendekatan kurva indiferensi, kepuasan konsumen tidak dapat dihitung tapi
hanya dapat membandingkan tinggi rendahnya kepuasan konsumen dengan menggunakan
konsep kurva indiferensi.
I.
TEORI ORDINAL
Menggunakan
asumsi-asumsi dasar yaitu :
1.
Kepuasan adalah ordinal. Meskipun kepuasan tidak dapat diukur
secara kardinal tapi dapat diukur secara ordinal. Misalnya kesatu, kedua dan
seterusnya yaitu dapat diperbandingkan dan dapat disusun dalambentuk ranking
atau urutan tinggi rendahnya kepuasan.
2.
Menurunya Marginal Rate of Substitusi (MRS)disebut juga tingkat
substitusimarjinal yang semakin menurun. MRS adalah suatu tingkat dimana
konsumen rela mensubstitusikan konsumsi barang tertentu dan menggantikan satu
unit barang lain agar mempertahankan tingkat utilitas sehingga akan tetap
beradapada tingkat kepuasan yang sama.
3.
Fungsi kepuasan total mempunyai bentuk :
U = f(x1,x2,......,xn)
Dimana U = Tingkat kepuasan
X = Jumlah barang yang dikonsumsi
4.
Asumsi konsistensi dan transitivitas yang secara singkat dapat
dijelaskan :
a.
Konsistensu menghendakai misalnya kalau A > B, maka haruslah B <
A
b.
Transitivitas menghendaki
misalnya kalau A > B dan B > C, maka haruslah A > C
Adalah kurva yang menunjukkan
berbagai kombinasi konsumsi 2 macam barang/jasa yang memberikan tingkat
kepuasan yang sama bagi seorang konsumen. Seorang konsumen memiliki jumlah
kurva indiferensi yang membentuk sekumpulan kurva indiferensi disebut peta
indiferens. Penggunaan asumsu 2 macam barang misalnya X1 dan X2,
hanyalah untuk menyederhanakan permasalahan. Dalamdunia nyata konsumen
menghadapi tidak hanya 2 macam barang/jasa konsumsi saja melainkan
berbagaimacam barang/jasa konsumsi.
I.2. Sifat-sifat Kurva
Indiferensi
1.
Semakin jauh kurva indiferensi dan titik origin, semakin tinggi
tingkat kepuasannya. Kumpulan kurva indiferensi hanya mengatakan makin kekanan
atas tingkat kepuasannya makin tinggi tapi tidak dapat menyatakan berapa kali
lipat.
2.
Kurva indiferensi menurun dari kiri atas kekanan bawah. Berarti
mempunyai lereng yang negatif, mempunyai makna supaya konsumen memperoleh
kepuasan yang sama seperti smeula. Maka berkurangnya jumlah konsumsi suatu
barang harus diimbangi dengan bertambahnya konsumsi barang lain.
3.
Kurva indiferensi cembung terhadap titik origin. Bahwa sebagai
akibat tingkat substitusi marjinal dan barang X2 untuk barang X1
terus menurun dengan meningkatnya konsumsi barang X1.
4.
Kurva indiferensi tidak saling berpotongan dan merupakan fungsi
kontinu. Meskipun kurva indiferensi tidak perlu sejajar satu dengan yang
lainnya, akan tetapi kurva indiferensi tidak saling berpotongan. Kurva
indiferensi adalah kurva yang menunjukkan berbagai kombinasi konsumsi 2 barang
konsumsi yang memberikan tingkat kepuasan yang sama.
I.3. Tingkat Substitusi Marginal
atau MRS
MRS barang konsumsi X2
untuk konsumsi barang X1 dapat didefinisikan bahwa berapa banyak
barang X2 yang harus disubstitusikan untuk menambah konsumsi 1 unit
barang X1 demi menjaga tingkat kepuasan yang sama dapat ditulis MRSx1x2
= (-Δx2/Δx1).
Contohnya konsumen rela mengurangi
konsumsi X2 sebesar 1 unit untuk memperoleh tambahan konsumsi barang
X1. Artinya tingkat substitusi marjinal dari barang X2
untuk barang X1 adalah sama dengan rasio dari utilitas marjinal
barang X1 terhadap utilitas barang X2. Secara
matematiknya :
MRSx1x2 = (MUx1/MUx2)
I.4. Garis Anggaran (Budget Line)
Merupakan garis yang menunjukkan
berbagai kombinasi konsumsi 2 macam barang per satuan waktu yang dapat dibeli
oleh konsumen dan membutuhkan biaya yang sama besar. Persamaan garis anggaran :
M = (Qx1.Px1)
+ (Qx2.Px2)
Dengan
demikian persamaan hubungan ketergantungan antar barang konsumsi yang sedang
dipertimbangkan konsumen untuk dibeli adalah
Qx2 = (M/Px2)
– (Px1/Px2) Qx1
Selama
garis yang menggambarkan persamaan tersebut mempunyai nilai kemiringan negatif,
maka nilai kemiringan garis anggaran tersebut ditentukan oleh
-(OA/OB) = -(M/Px2) /
(M/Px1) = - (Px1/Px2)
0 x1a x1b x1c x1
Gambar 1.
Kurva Garis Anggaran
Tabel 1. Contoh Kombinasi barang X1 dan
barang X2
Titik
kombinasi Konsumsi (x1,x2)
|
Qx1
|
Qx2
|
Anggaran
Pengeluaran (M)
|
A
|
0
|
4
|
1000
|
B
|
1
|
3
|
1000
|
C
|
2
|
2
|
1000
|
D
|
3
|
1
|
1000
|
E
|
4
|
0
|
1000
|
A
B
C
D
0 1 2
3 4 x1
Gambar
2. Kurva Garis Anggaran Konsumen untuk Barang x1 dan Barang x2
I.5. Perubahan Harga barang dan
Pendapatan terhadap perubahan Garis Anggaran Konsumen
1.
Pengaruh perubahan harga barang terhadap perubahan garis anggaran
konsumen. Apabila terjadi perubahan harga barang berarti rasio harga diantara
barang tersebut akan berubah pula, sehingga akan mempengaruhi slope dari garis
anggaran itu karena slope dari garis anggaran itu adalah –(Px1/Px2).
Contoh pada tabel 1 persamaan anggaran pengeluaran konsumen sebagai berikut :
250Qx1 + 250Qx2 = 1000 atau Qx2 =
4 – Qx1
Jika harga X1 turun, maka
:
200Qx1
+ 250Qx2 = 1000 atau Qx2 = 4 – 0,8Qx1
Jika harga X1 naik, maka :
300Qx1
+ 250Qx2 = 1000 atau Qx2 = 4 – 1,2Qx1
Ketiga persamaan tersebut
digambarkan dalam grafik sebagai berikut :
0 1
2 3 4
5
x1
Gambar 3 :
Pengaruh Perubahan Harga Barang X1 terhadap Pergeseran Garis
Anggaran
2.
Pengaruh perubahan pendapatan terhadap perubahan garis anggaran
konsumen. Apabila terjadi perubahan pendapatan untuk membeli barang yang sedang
dipertimbangkan oleh konsumen hal ini akan berpengaruh pada pergeseran garis
anggaran konsumen tersebut. Persamaan anggaran pengeluaran konsumen sebagai
berikut :
250Qx1
+ 250Qx2 = 1000 atau Qx2 = 4 – Qx1
Jika anggaran pengeluaran
konsumen turun, maka :
250Qx1 +
250Qx2 = 500 atau Qx2 = 2 – Qx1
Jika anggaran pengeluaran konsumen
naik, maka :
250Qx1 +
250Qx2 = 1500 atau Qx2 = 6 – Qx1
Ketiga persamaan tersebut
digambarkan dalam grafik sebagai berikut :
0 2
4 6 x1
Gambar 4 :
Pengaruh Perubahan Anggaran Pengeluaran terhadap pergeseran Garis Anggaran
I.6. Keseimbangan Konsumen
Jika peta diferensiasi dan garis
anggaran digambarkan secara bersama pada satu kurva, akan diperoleh apa yang
dalam ekonomi disebut sebagai kurva keseimbangan konsumen. Kurva ini digunakan
untuk menganalisis perilaku konsumen. Kurva ini menunjukkan pencapaian maksimum
utilitas pada kondisi anggaran pengeluaran konsumen yang terbatas yang
merupakan titik singgung antara kurva indiferensi dan garis anggaran konsumen.
Kondisi keseimbangan secara umum
yang memaksimumkan utilitas pada anggaran pengeluaran tertentu tercapai apabila
rasio utilitas marginal terhadap harga dari masing-masing barang yang dipertimbangkan
untuk dikonsumsi adalah sama. Prinsip maksimisasikepuasan yang menuntut
kesamaan nilai marginal utility per harga barang tersebut dalam mengalokasikan
pendapatan konsumen disebut prinsip kesamaan marginal atau equimarginal
principle.
I.7. Perubahan Harga Barang
terhadap Keseimbangan Konsumen
1.
Kurva konsumsi harga. Dapat didefinisikan sebagai tempat kedudukan
titik keseimbangan konsumen pada berbaga8i rasio harga sebagai akibat perubahan
harga suatu barang, dimana pendapatan nominalnya tetap.
2.
Kurva permintaan. Secara konseptual kurva permintaan diturunkan
dari kurva konsumsi harga dalam kurva keseimbangan konsumen. Contoh pada abel 1
diasumsikan pada saat harga X1 250/unit, jumlah konsumsi barang X1
sebesar 2 unit, jika harga X1 naik jadi 300/unit jumlah konsumsi
barangnya menjadi 1,67 unit, dan jika harga x1 turun menjadi
200/unit maka jumlah konsumsi barangnya mengalami kenaikan menjadi 2,5 unit.
0 1 1,67 2 2,5 3 4
5 Qx1
0 1 1,67 2 2,5 3
Qx1
Gambar
5 : Kurva Konsumsi harga dan Kurva permintaan
I.8. Perubahan Pendapatan Nominal
terhadap Keseimbangan Konsumen
1.
Kurva konsumsi pendapatan. Dapat didefinisikan sebagai tempat
kedudukan titik keseimbangan konsumen pada berbagai tingkat pendapatan nominal,
dimana harga nominal barang tidak berubah. Kemiringan kurva konsumsi pendapatan
adalah positif, karena umumnya permintaan terhadap suatu barang meningkat bila
pendapatan meningkat.
Terdapat 3 tipe kurva konsumsi
pendapatan yaitu lurus, condong kesumbu vertikal, dan condong ke sumbu
horizontal. Kurva yang lurus menggambarkan bahwa setiap ada peningkatan pendapatan
akan dipergunakan untuk menambah konsumsi barang X1 dan X2
secara seimbang. Kurva yang condong kesumbu horizontal menggambarkan bahwa
setiap ada peningkatan pendapatan akanlebih banyak dipergunakan untuk menambah
konsumsi barang X1. Kurva yang condong kesumbu vertikal
menggambarkan bahwa setiap ada peningkatan pendapatan akan lebih banyak
dipergunakan untuk menambah konsumsi barang X2.
2.
Kurva engel. Kurva ini untuk
menunjukkan banyaknya barang yang ingin dibeli per unit waktu oleh konsumen
pada berbagai tingkat pendapatan. Kurva engel untuk barang yang merupakan
kebutuhan pokok perubahan pendapatan nominal tidak berpengaruh terhadap perubahan
permintaan. Jika dikaitkan dengan konsep elastisitas maka elastisitas
pendapatan dari barang kebutuhan pokok makin kecil bila pendapatan nominal
makin tinggi. Kurva engel untuk barang yang merupakan barang mewah, perubahan
pendapatan nominal sangat berpengaruh terhadap perubahan permintaan. Jika
dikaitkan dengan konsep elastisitas maka pendapatan elastisitas pendapatan dari
barang mewah makin besar bila tingkat pendapatan nominal makin tinggi.
0 2 4 6
x1
0 2 4 6
x1
Gambar 6 : Kurva
Konsumsi Pendapatan dan Kurva Engel
I.9. Efek Substitusi dan Efek
Pendapatan
Perubahan harga nominal suatu barang
mengakibatkan dua hal terhadapjumlah yang diminta konsumen. Pertama, adanya
perubahan harga relatif, perubahan ini mendorong konsumen mengubah penggunaan
barang yang satu dengan barang yang lain. Jadi perubahan harga relatif sendiri
mendorong efek subtitusi dan kedua perubahan harga nominal suatu barang
mengakibatkan berubahnya pendapatan riil atau jumlah barang yang dapat dipilih
konsumen.
1.
Efek subtitusi dan efek pendapatan untuk barang normal. Bila harga
suatu barang berubah, harga barang – barang lain dan pendapatan nominal
konsumen tetap, maka konsumen bergerak dari satu titik keseimbangan ke titik
keseimbangan yang lain. Dalam keadaan normal, bila harga suatu barang turun
maka akan bertambah jumlah yang dibeli. Sebaliknya, jika harga naik maka jumlah
yang dibeli akan berkurang. Perubahan jumlah yang dimnta dari satu posisi
keseimbangan keposisi keseimbangan yang lain disebut efek total (Total Effect).
Efek totel dari suatu perubahan harga adalah seluruh perubahan jumlah barang
yang diminta konsumen sebagai mana konsumen bergerak dari suatutitik
keseimbangan ke titik kesimbangan yang lain.
(a)
Efek subtitusi dan efek pendapatan untuk barang normaldalam kasus
harga naik. Efek subtitusi dapat didefenisikan sebagai perubahan jumlah barang
diminta sebagai akibat perubahan harga relatif sesudah perubahan pendapatan ril
konsumen dikonpensir. Dengan kata lain efek subtitusi dapat didefenisikan
sebagai perubahan barang yang diminta akibat adanya perubahan harga, bila
perubahan tersebut dibatasin pada pergerakan sepanjang kurva indiferensi
mula-mula. Jadi dalam hal ini pendapatan ril dianggap tetap. Efek pendapatan
adanya peubahan harga suatu barang adalah perubahan suatu barang yang diminta
konsumen akibat adanya perubahan pendapatan ril semata-mata, dimana harga
barang lain dan pendapatan nominal konsumen tetap.
(b)
Efek subtitusi dan efek pendapatan untuk barang normaldalam kasus
harga turun. Untuk barang – barang normal efek pendapatan memperkuat efek
substitusi. Jika harga turun berarti penghasilan ril konsumen naik dan untuk
barang normal,hal ini berarti jumlah barang yang diminta konsumen akan naik. Tetapi
turunnya harga juga menaikan jumlah yang diminta kerena efek substitusi bekerja
dalam arah yang sama. Untuk kasus baranng normal jumlah barang yang diminta
selalu berakibat secara berlawanan arah dengan perubahan harga.
2.
Efek subtitusi dan efek pendapatan untuk barang inferior. Jika
yang harganya berubah bukan barang normal melainkan barang inferior maka efek
pendapatanya, secara defenitif, pasti bernilai negatif. Artinya perubahan
pendapatan ril akan menimbulkan perubahan tingkat pembelian tetapi dalam arah
yang berlawanan. Dengan kata lain barang inferior adalah barang yang arah
perubahan jumlah permintaannya berlawanan dengan perubahan pendapatan ril
konsumen.
3.
Efek subtitusi dan efek pendapatan untuk barang giffen. Barang
giffen (Giffen Good) menunjukan barang yang jumlah permintaanya berubah searah
dengan perubahan harga. Untuk kasus barang giffen ini, turunya harga barang
mendorong turunya jumlah barang yang diminta, dan naiknya harga mendorong
bertambahnya jumlah barang yang diminta, sehingga kurva permintaan konsumennya
akan memiliki sudut positif. Efek subtitusi ternyata selalu mensyaratkan
hubungan terbalik antara perubahan harga barang dengan perubahan jumlah
permintaan atas barang tersebut. Sedangkan efek pendapatan bisa menimbulkan
hubungan searah maupun hubungan terbalik antara kedua hal itu, tergantung pada
apakah barang yang bersangkutan merupakan barang normal atau inferior ayau
giffen. Jadi, untuk semua barang normal efek pendapatan dari perubahan harga
memprkuat efek subtitusi.
KUMPULAN
TUGAS
EKONOMI
MIKRO
OLEH
:
Yana Amalia
D1BOO9O24
PROGRAM
STUDI / JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
JAMBI
2012