PASAR OLIGOPOLI
BAB I PENDAHULUAN
Pasar merupakan tulang punggung
perekonomian masyakat, baik masyarakat yang berada dikalangan kelas bawah
ataupun masyarakat yang berada di kalangan kelas atas. Pasar juga merupakan
proses hubungan timbal antara penjual dan pembeli untuk mencapai kesepakatan
harga dan jumlah suatu barang/jasa yang diperjualbelikan. Semua unsur yang
berkaitan dengan hal ekonomi berada di pasar oligopoli mulai dari unsur
produksi, distribusi, ataupun unsur konsumsi.
Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan permainan pasar, dimana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.
Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan permainan pasar, dimana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.
Praktek oligopoli umumnya dilakukan
sebagai salah satu upaya untuk menahan perusahaan-perusahaan potensial untuk
masuk ke dalam pasar dan juga perusahaan-perusahaan melakukan oligopoli sebagai
salah satu usaha untuk menikmati laba normal di bawah tingkat maksimum dengan
menetapkan harga jual, sehingga menyebabkan kompetisi harga diantara pelaku
usaha yang melakukan praktek oligopoli menjadi tidak ada.
Dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1999, oligopoli dikelompokkan ke dalam kategori perjanjian yang dilarang, padahal umumnya oligopoli terjadi melalui keterkaitan reaksi, khususnya pada barang-barang yang bersifat homogen atau identik dengan kartel (kelompok produsen independen yang bertujuan menetapkan harga untuk membatasi suplai dan kompetisi), sehingga ketentuan yang mengatur mengenai oligopoli ini sebaiknya digabung dengan ketentuan yang mengatur mengenai kartel.
Dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1999, oligopoli dikelompokkan ke dalam kategori perjanjian yang dilarang, padahal umumnya oligopoli terjadi melalui keterkaitan reaksi, khususnya pada barang-barang yang bersifat homogen atau identik dengan kartel (kelompok produsen independen yang bertujuan menetapkan harga untuk membatasi suplai dan kompetisi), sehingga ketentuan yang mengatur mengenai oligopoli ini sebaiknya digabung dengan ketentuan yang mengatur mengenai kartel.
Seperti telah dikemukakan diatas bahwa teori duopoli merupakan
dasar bagi teori pasar oligopoli. Pada
dasarnya terdapat dua teori pokok dalam analisis pasar oligopoli, yaitu :
1). Antara satu pengusaha dengan pengusaha lainnya di dalam
melakukan kegiatannya tidak terdapat suatu ikatan tertentu ( independent
action).
2). Antara pengusaha-pengusaha yang ada dalam pasar oligopoli
menjalin suatu ikatan (collusion) tertentu.
Ikatan ini ada yang sempurna ( perfect collusion) dan ada yang tidak
sempurna (imperfect collusion).
Tidak Ada Ikatan Antar Pengusaha
Akibat dari bebasnya masing-masing pengusaha di dalam menentukan
kebijakan kebijakannya, terutama kebijakan harga dan produksi, adalah timbulnya
perang harga diantara sesama pengusaha oligopoli tersebut. Akhir dari perang harga ini adalah membuat
kehancuran bagi beberapa pengusaha tertentu.
BAB II TEORI
1.
Pengertian
Pasar Oligopoli
Istilah oligopoli berarti beberapa
penjual. Beberapa penjual di dalam konteks ini maksudnya dimana penawaran satu
jenis barang dikuasai oleh beberapa perusahaan. Beberapa dapat berarti paling
sedikit 2 dan paling banyak 10 sampai 15 perusahaan. Pasar oligopoli merupakan
suatu struktur pasar dimana hanya terdapat beberapa produsen yang menghasilkan
barang-barang yang bersaing. Jika pasar oligopoli hanya terdiri dari dua
perusahaan saja maka disebut duopoli.
Pasar oligopoli adalah
pasar di mana penawaran satu jenis barang dikuasai oleh beberapa perusahaan.
Umumnya jumlah perusahaan lebih dari dua tetapi kurang dari sepuluh.
Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan
memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan pasar, di
mana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing
mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga, dan sebagainya
dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.
Praktek oligopoli umumnya dilakukan sebagai
salah satu upaya untuk menahan perusahaan-perusahaan potensial untuk masuk
kedalam pasar, dan juga perusahaan-perusahaan melakukan oligopoli sebagai salah
satu usaha untuk menikmati laba normal di bawah tingkat maksimum dengan
menetapkan harga jual terbatas, sehingga menyebabkan kompetisi harga di antara pelaku usaha yang
melakukan praktik oligopoli menjadi tidak ada.
Struktur pasar oligopoli umumnya terbentuk
pada industri-industri yang memiliki capital
intensive yang tinggi,
seperti, industri semen, industri mobil, dan industri kertas.
Dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1999,
oligopoli dikelompokkan ke dalam kategori perjanjian yang dilarang, padahal
umumnya oligopoli terjadi melalui keterkaitan reaksi, khususnya pada
barang-barang yang bersifat homogen atau identik dengan kartel,
sehingga ketentuan yang mengatur mengenai oligopoli ini sebagiknya digabung
dengan ketentuan yang mengatur mengenai kartel
2. Karakteristik Pasar Oligopoli
Dari pengertian yang dikemukakan
sebelumnya dapat dilihat beberapa karakter dari pasar oligopoli yaitu sebagai
berikut:
a. Hanya Sedikit Perusahaan Dalam
Industri (Few Number of Firms)
Secara teoristis sulit sekali untuk menetapkan berapa jumlah perusahaan di dalam pasar, agar dapat dikatakan oligopoli. Namun untuk dasar analisis biasanya jumlah perusahaan diasumsikan kurang dari sepuluh. Dalam kasus tertentu hanya terdapat dua perusahaan (duopoli). Kekuatan perusahaan-perusahaan dalam industri dapat diukur dengan menghitung rasio konsentrasi (concentration ratio). Rasio konsentrasi menghitung berapa persen output dalam pasar oligopoli dikuasai oleh perusahaan-perusahaan yang dominan (empat sampai dengan delapan perusahaan). Jika rasio konsentrasi empat perusahaan (four firms concentration ratio atau CR4) adalah 60%, berarti 60% output dalam industri dikuasai oleh empat perusahaan terbesar. CR4 yang semakin kecil mencerminkan struktur pasar yang semakin bersaing sempurna. Pasar suatu industri dinyatakan berstruktur oligopolistik apabila CR4 melebihi 40%. Dapat juga diukur delapan perusahaan (CR8) atau jumlah lainnya. Jika CR8 80, berarti 80% penjualan output dalam industri dikuasai oleh delapan perusahaan terbesar.
Secara teoristis sulit sekali untuk menetapkan berapa jumlah perusahaan di dalam pasar, agar dapat dikatakan oligopoli. Namun untuk dasar analisis biasanya jumlah perusahaan diasumsikan kurang dari sepuluh. Dalam kasus tertentu hanya terdapat dua perusahaan (duopoli). Kekuatan perusahaan-perusahaan dalam industri dapat diukur dengan menghitung rasio konsentrasi (concentration ratio). Rasio konsentrasi menghitung berapa persen output dalam pasar oligopoli dikuasai oleh perusahaan-perusahaan yang dominan (empat sampai dengan delapan perusahaan). Jika rasio konsentrasi empat perusahaan (four firms concentration ratio atau CR4) adalah 60%, berarti 60% output dalam industri dikuasai oleh empat perusahaan terbesar. CR4 yang semakin kecil mencerminkan struktur pasar yang semakin bersaing sempurna. Pasar suatu industri dinyatakan berstruktur oligopolistik apabila CR4 melebihi 40%. Dapat juga diukur delapan perusahaan (CR8) atau jumlah lainnya. Jika CR8 80, berarti 80% penjualan output dalam industri dikuasai oleh delapan perusahaan terbesar.
b. Produk Homogen atau
Terdiferensiasi (Homogen or Diferentiated Product)
Dilihat dari sifat output yang dihasilkan, pasar oligopoli merupakan peralihan antara persaingan sempurna dengan monopoli. Perbedaan sifat output yang dihasilkan akan mempengaruhi perilaku perusahaan dalam mencapai kondisi optimal (laba maksimum). Jika dalam pasar persaingan sempurna perusahaan mengatur jumlah output (output strategy) untuk meningkatkan laba, dalam pasar monopoli hanya satu perusahaan yang mampu mengendalikan harga dan output, maka dalam pasar oligopoli bentuk persaingan antar perusahaan adalah persaingan harga (pricing strategy) dan non harga (non pricing strategy). Contoh pasar oligopoli yang menghasilkan produk diferensiasi adalah industri mobil, rokok, film kamera. Sedangkan yang menghasilkan produk homogen adalah industri baja, pipa, paralon, seng dan kertas.
Penggolongan ini mempunyai arti penting dalam menganalisis pasar yang oligopolistik. Semakin besar tingkat diferensinya, perusahaan makin tidak tergantung pada kegiatan perusahaan-perusahaan lainnya. Berarti oligopoli dengan produk diferensiasi dapat lebih mudah memprediksi reaksi-reaksi dari perusahaan-perusahaan lawan.
Di luar unsur modal, rintangan untuk masuk ke dalam industri oligopoli yang menghasilkan produk homogen lebih sedikit, karena pada industri oligopoli dengan produk diferensiasi sangat berkaitan dengan loyalitas konsumen terhadap produk (merek) tertentu.
Dilihat dari sifat output yang dihasilkan, pasar oligopoli merupakan peralihan antara persaingan sempurna dengan monopoli. Perbedaan sifat output yang dihasilkan akan mempengaruhi perilaku perusahaan dalam mencapai kondisi optimal (laba maksimum). Jika dalam pasar persaingan sempurna perusahaan mengatur jumlah output (output strategy) untuk meningkatkan laba, dalam pasar monopoli hanya satu perusahaan yang mampu mengendalikan harga dan output, maka dalam pasar oligopoli bentuk persaingan antar perusahaan adalah persaingan harga (pricing strategy) dan non harga (non pricing strategy). Contoh pasar oligopoli yang menghasilkan produk diferensiasi adalah industri mobil, rokok, film kamera. Sedangkan yang menghasilkan produk homogen adalah industri baja, pipa, paralon, seng dan kertas.
Penggolongan ini mempunyai arti penting dalam menganalisis pasar yang oligopolistik. Semakin besar tingkat diferensinya, perusahaan makin tidak tergantung pada kegiatan perusahaan-perusahaan lainnya. Berarti oligopoli dengan produk diferensiasi dapat lebih mudah memprediksi reaksi-reaksi dari perusahaan-perusahaan lawan.
Di luar unsur modal, rintangan untuk masuk ke dalam industri oligopoli yang menghasilkan produk homogen lebih sedikit, karena pada industri oligopoli dengan produk diferensiasi sangat berkaitan dengan loyalitas konsumen terhadap produk (merek) tertentu.
c. Pengambilan Keputusan Yang Saling
Mempengaruhi (Interdependence Decisions)
Keputusan perusahaan dalam menentukan harga dan jumlah output akan mempengaruhi perusahaan lainnya, baik yang sudah ada (existing firms) maupun yang masih di luar industri (potensial firms). Karenanya guna menahan perusahaan potensial untuk masuk industri, perusahaan yang sudah ada menempuh strategi menetapkan harga jual terbatas (limiting prices) yang membuat perusahaan menikmati laba super normal di bawah tingkat maksimum.
Keputusan perusahaan dalam menentukan harga dan jumlah output akan mempengaruhi perusahaan lainnya, baik yang sudah ada (existing firms) maupun yang masih di luar industri (potensial firms). Karenanya guna menahan perusahaan potensial untuk masuk industri, perusahaan yang sudah ada menempuh strategi menetapkan harga jual terbatas (limiting prices) yang membuat perusahaan menikmati laba super normal di bawah tingkat maksimum.
d. Kompetisi Non Harga (Non Pricing
Competition)
Dalam upayanya mencapai kondisi
optimal, perusahaan tidak hanya bersaing dalam harga, namun juga non harga.
Adapun bentuk-bentuk kompetisi non harga antara lain dapat berupa sebagai
berikut :
1) Pelayanan purna jual serta iklan
untuk memberikan informasi
2) Membentuk citra yang baik terhadap
perusahaan dan merek
3) Mempengaruhi perilaku konsumen
Keputusan investasi yang akurat
diperlukan agar perusahaan dapat berjalan dengan tingkat efisiensi yang sangat
tinggi. Tidak tertutup kemungkinan perusahaan melakukan kegiatan intelijen industri
untuk memperoleh informasi (mengetahui) keadaan, kekuatan dan kelemahan pesaing
nyata maupun potensial. Informasi-informasi ini sangat penting agar perusahaan
dapat memprediksi reaksi pesaing terhadap setiap keputusan yang diambil.
3.
Faktor-faktor
Penyebab Terbentuknya Pasar Oligopoli
Ada dua faktor penting yang
menyebabkan terbentuknya pasar oligopoli yaitu sebagai berikut :
a. Efisiensi Skala Besar
a. Efisiensi Skala Besar
Dalam dunia nyata,
perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri mobil, semen, kertas, pupuk
dan peralatan mesin umumnya berstruktur oligopoli. Teknologi padat modal
(capital intensive) yang dibutuhkan dalam proses produksi menyebabkan efisiensi
(biaya rata-rata minimum) baru tercapai bila output diproduksi dalam skala
sangat besar. Dalam industri mobil, untuk satu jenis, skala efisiensi baru
tercapai jika produksi mobil minimal 50.000 sampai 100.000 unit per tahun. Bila
perusahaan memproduksi tiga jenis mobil saja, output minimal seluruhnya antara
200.000 – 300.000 unit per tahun. Selanjutnya bila biaya produksi per mobil
puluhan juta rupiah, maka dana yang dibutuhkan untuk memproduksi sebanyak
ratusan miliyar rupiah per tahun. Jika dihitung dengan biaya investasi awal,
maka perusahaan yang ingin memasuki industri mobil harus menyiapkan dana triliunan
rupiah.
Keadaan tersebut merupakan hambatan untuk masuk (barries to entry) bagi perusahaan-perusahaan pesaing. Tidak mengherankan jika dalam pasar oligopoli hanya terdapat sedikit produsen.
Keadaan tersebut merupakan hambatan untuk masuk (barries to entry) bagi perusahaan-perusahaan pesaing. Tidak mengherankan jika dalam pasar oligopoli hanya terdapat sedikit produsen.
b. Kompleksitas Manajemen
Berbeda dengan tiga struktur pasar lainnya
(persaingan sempurna, monopoli, dan persaingan monopolistik), struktur pasar
oligopoli ditandai dengan kompetisi harga dan non harga. Perusahaan juga harus
cermat memperhitungkan setiap keputusan agar tidak menimbulkan reaksi yang
merugikan dari perusahaan pesaing. Karena itu dalam industri oligopoli,
kemampuan keuangan yang besar saja tidak cukup sebagai modal untuk bertahan
dalam industri. Perusahaan juga harus memiliki kemampuan manajemen yang sangat
baik agar mampu bertahan dalam struktur industri yang persaingannya begitu
kompleks. Tidak banyak perusahaan yang memiliki kemampuan tersebut, sehingga
dalam pasar oligopoli akhirnya hanya terdapat sedikit produsen.
4.
Hubungan
Antara Perusahaan-perusahaan Dalam Pasar Oligopoli
Ada dua macam bentuk hubungan antara
perusahaan-perusahaan yang terdapat di dalam pasar oligopoli yaitu sebagai
berikut :
a. Oligopoli dengan kesepakatan (Collusive Oligopoly)
a. Oligopoli dengan kesepakatan (Collusive Oligopoly)
Kesepakatan antara perusahaan dalam
pasar oligopoli biasanya berupa kesepakatan harga dan produksi (kesepakatan ini
kadang disebut sebagai “kolusi” atau “kartel”) dengan tujuan menghindari perang
harga yang akan membawa kerugian bagi masing-masing perusahaan pada kondisi
tertentu (contoh adalah kesepakatan produksi dan harga pada OPEC). Bentuk
persepakatan ini biasanya mengatur tentang banyaknya jumlah produksi yang boleh
dihasilkan oleh masing-masing perusahaan berikut dengan harganya yang sama
juga. Kesepakatan dalam jumlah produksi dapat berupa pembagian secara merata,
yaitu pembagian produksi yang didasarkan pada banyaknya jumlah permintaan
efektif di pasar terhadap jumlah perusahaan yang menghasilkan produk yang sama.
b. Oligopoli tanpa kesepakatan (Non
Collusive Oligopoly)
Persaingan antar perusahaan dalam
pasar oligopoli biasanya berupa perbedaan harga dan jumlah produk yang
dihasilkan. Perbedaan harga dan jumlah produksi (bisa saling berhubungan
positif timbal balik) dilakukan dalam rangka ingin mendapatkan jumlah pembeli
yang lebih banyak dari sebelumnya (dari pesaingnya).
Terdapat beberapa hal yang mungkin terjadi dalam pasar persaingan ini sehubungan dengan tingkat harga dan jumlah produksi (produk yang dihasilkan relatif sama) yaitu sebagai berikut :
1) Bila terdapat satu perusahaan yang mencoba memperbanyak jumlah produksinya agar harga jual produknya relatif lebih murah dibandingkan dengan pesaingnya, maka biasanya langkah ini akan diikuti oleh pesaing dengan menurunkan harga jual produknya.
2) Bila satu perusahaan mulai menurunkan harga jual produknya tanpa menambah jumlah produksinya dengan maksud untuk menguasai pangsa pasar, maka langkahnya akan diikuti oleh perusahaan lain, baik dengan cara menurunkan harganya semata atau menurunkan harga dengan cara menjual lebih banyak produknya di pasar.
3) Bila satu perusahaan menaikkan harga jual produknya, baik dengan cara langsung pada penurunan harga ataupun dengan cara mengurangi jumlah produksinya, maka perusahaan lain relatif tidak akan mengikutinya.
Terdapat beberapa hal yang mungkin terjadi dalam pasar persaingan ini sehubungan dengan tingkat harga dan jumlah produksi (produk yang dihasilkan relatif sama) yaitu sebagai berikut :
1) Bila terdapat satu perusahaan yang mencoba memperbanyak jumlah produksinya agar harga jual produknya relatif lebih murah dibandingkan dengan pesaingnya, maka biasanya langkah ini akan diikuti oleh pesaing dengan menurunkan harga jual produknya.
2) Bila satu perusahaan mulai menurunkan harga jual produknya tanpa menambah jumlah produksinya dengan maksud untuk menguasai pangsa pasar, maka langkahnya akan diikuti oleh perusahaan lain, baik dengan cara menurunkan harganya semata atau menurunkan harga dengan cara menjual lebih banyak produknya di pasar.
3) Bila satu perusahaan menaikkan harga jual produknya, baik dengan cara langsung pada penurunan harga ataupun dengan cara mengurangi jumlah produksinya, maka perusahaan lain relatif tidak akan mengikutinya.
5.
Model
Oligopoli
Begitu kompleksnya situasi dalam
pasar oligopoli, sehingga para ekonom mengembangkan
berbagai model untuk menganalisis perilaku oligopolis. Sayangnya, tidak ada
satu pun model yang dapat diterima secara umum sebagai model terbaik. Berikut
ini akan disampaikan beberapa model oligopoli yang dikembangkan oleh para
ekonom.
a. Model Permintaan Yang Patah (Kinked Demand Model)
a. Model Permintaan Yang Patah (Kinked Demand Model)
Model ini dikembangkan oleh P.M.
Sweezy (1939). Sweezy beranggapan bahwa kalau ada produsen dalam pasar
oligopoli yang berusaha menaikkan harga maka ia akan kehilangan langganan
karena tak ada produsen lainnya yang bersedia menaikkan harga. Namun
sebaliknya, produsen dalam pasar oligopoli tidak dapat memperluas pasar dengan
menurunkan harga sebab para pesaing akan menurunkan harga dengan tingkat yang
lebih rendah lagi. Akibatnya terjadilah perang harga. Dalam hal ini para produsen
dalam pasar oligopoli saling mempengaruhi pasar oligopoli tidak dapat
memperluas pasar dengan menurunkan harga sebab para pesaing akan menurunkan
harga dengan tingkat yang lebih rendah lagi. Akibatnya terjadilah perang harga.
Dalam hal ini para produsen dalam pasar oligopoli saling mempengaruhi, tetapi
tidak melakukan kolusi (kesepakatan).
b. Model Cournot (Cournot Model)
Model Cournot yang disebut juga
duopoli dikembangkan oleh Augustin Cournot seorang ahli ekonomi berkebangsaan
Perancis pada tahun 1838. Asumsi utama dari model ini adalah bahwa jika
perusahaan telah menentukan tingkat produksinya, ,aka perusahaan tersebut tidak
akan mengubahnya. Atas dasar asumsi inilah perusahaan pesaingnya akan
menentukan tingkat produksinya. Dalam pasar duopoli hanya terdapat dua
perusahaan yang menjual produk yang homogen, dengan demikian hanya terdapat
satu harga pasar. Harga pasar ditentukan oleh keseimbangan antara jumlah total
output yang dihasilkan oleh dua perusahaan dengan permintaan pasar.
c. Model Stackelberg (Stackelberg
Model)
Dalam model Stackelberg diasumsikan
bahwa di pasar terdapat dua perusahaan, satu bertindak sebagai pemimpin (leader
firm) dan satu perusahaan berlaku sebagai pengikut (follower). Perusahaan yang
bertindak sebagai pemimpin mempunyai kewenangan untuk menentukan jumlah output
yang akan dihasilkan untuk memperoleh keuntungan maksimum. Atas dasar jumlah
output yang telah ditentukan oleh perusahaan pemimpin ini, perusahaan pengikut
akan bereaksi sesuai dengan ketentuan pada model Cournot, yaitu menganggap
bahwa perusahaan pemimpin tidak akan mengubah tingkat outputnya.
d. Model Perusahaan Dominan (The
Dominant Firm Model)
Model perusahaan dominan adalah
pengembangan lebih lanjut dari model Stackelberg. Dalam model ini juga terdapat
perusahaan dominan yang bertindak selaku pemimpin dasar serta
perusahaan-perusahaan lain sebagai pengikut. Perbedaannya adalah bahwa
perusahaan-perusahaan pengikut tidak bereaksi mengikuti model Cournut,
melainkan mereka bereaksi seolah-olah mereka berada dalam pasar yang bersaing
sempurna. Dengan demikian perusahaan-perusahaan pengikut bertindak sebagai
penerima harga (price taker), yaitu akan menerima berapapun harga yang
ditetapkan oleh perusahaan pemimpin dan akan menghasilkan output pada kondisi
dimana marginal costnya sama dengan tingkat harga.
6.
Jenis-jenis
Pasar Oligopoli
Berdasarkan produk yang
diperdagangkan, pasar oligopoli dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :
a. Pasar Oligopoli Murni (Pure
Oligopoly)
Jenis ini merupakan praktek oligopoli dimana barang yang diperdagangkan merupakan barang yang bersifat identik, misalnya praktek oligopoli pada produk air mineral.
Jenis ini merupakan praktek oligopoli dimana barang yang diperdagangkan merupakan barang yang bersifat identik, misalnya praktek oligopoli pada produk air mineral.
b. Pasar Oligopoli dengan Pembedaan
(Differentiated Oligopoly)
Pasar ini merupakan suatu bentuk
praktek oligopoli dimana barang yang diperdagangkan dapat dibedakan, misalnya
pasar sepeda motor di Indonesia yang dikuasai oleh beberapa merek terkenal
seperti Honda, Yamaha dan Suzuki.
Ciri-ciri tersebut diterangkan dalam uraian berikut.
1.Produk yang dijual barang standar maupun barang berbeda corak
1.Produk yang dijual barang standar maupun barang berbeda corak
Adakalanya perusahaan dalam pasar oligopoli menghasilkan
barang standar (standardized product). Industri pasar oligopoli yang demikian
sifatnya banyak dijumpai dalam industri yang menghasilkan bahan mentah seperti
produsen bensin, industri baja dan aluminium dan industri bahan baku industri
semen dan bahan bangunan. Di samping itu banyak pula pasar oligopoli yang
terdiri dari perusahaan-perusahaan yang menghasilkan barang berbeda corak
(d!jerenfiatedproduct). Barang seperti itu pada umumnya adalah barang akhir.
Contoh dari pasar oligopoli yang menghasilkan barang akhir adalah industri
mobil dan truk, industri rokok, dan industri sabun cuci dan sabun mandi.
2.Kekuasaan untuk menentukan harga adakalanya lemah dan adakalanya sangat tagguh.
Dari dua kemungkinan ini, yang mana yang akan wujud tergantung kepada bentuk kerjasama di antara perusahaan-perusahaan dalam pasar oligopoli.
Tanpa ada kerjasama, kekuasaan menentukan harga menjadi lebih terbatas. Apabila ada suatu perusahaan menurunkan harga, dalam waktu yang singkat ia akan menarik banyak pembeli. Perusahaan yang kehilangan pembeli akan melakukan tindakan balasan deagan.mengurangi,harga yang lebih besar lagi sehingga akhirnya perusahaan yang mula-mula menurun harga akan kehilangan banyak pelanggannya. Tetapi kalau perusahaan dalam pasar oligopoli bekerjasama dalam menentukan harga, maka harga dapat ilkan pada tingkat harga yang mereka sepakati. Sehingga kekuasaan mereka dalam menentukan harga adalah sangat besar, yaitu sama seperti dalam pasar monopoli.
3. Pada umumnya Perusahaan Oligopoli perlu melakukan promosi secara iklan.
Kegiatan periklanan secara terus sangat diperlukan oleh perusahaan dalam pasar oligopoli yang menghasilkan barang yang berbeda corak. Pengeluaran iklan oleh perusahaan-perusahaan dalam pasar oligopoli basanaya sangat besar sekali. Kegiatan promosi secara secara iklan yang sangat aktif tersebut adalah untuk dua tujuan , yaitu menarik pembeli baru dan mempertahankan pembeli lama.
2.Kekuasaan untuk menentukan harga adakalanya lemah dan adakalanya sangat tagguh.
Dari dua kemungkinan ini, yang mana yang akan wujud tergantung kepada bentuk kerjasama di antara perusahaan-perusahaan dalam pasar oligopoli.
Tanpa ada kerjasama, kekuasaan menentukan harga menjadi lebih terbatas. Apabila ada suatu perusahaan menurunkan harga, dalam waktu yang singkat ia akan menarik banyak pembeli. Perusahaan yang kehilangan pembeli akan melakukan tindakan balasan deagan.mengurangi,harga yang lebih besar lagi sehingga akhirnya perusahaan yang mula-mula menurun harga akan kehilangan banyak pelanggannya. Tetapi kalau perusahaan dalam pasar oligopoli bekerjasama dalam menentukan harga, maka harga dapat ilkan pada tingkat harga yang mereka sepakati. Sehingga kekuasaan mereka dalam menentukan harga adalah sangat besar, yaitu sama seperti dalam pasar monopoli.
3. Pada umumnya Perusahaan Oligopoli perlu melakukan promosi secara iklan.
Kegiatan periklanan secara terus sangat diperlukan oleh perusahaan dalam pasar oligopoli yang menghasilkan barang yang berbeda corak. Pengeluaran iklan oleh perusahaan-perusahaan dalam pasar oligopoli basanaya sangat besar sekali. Kegiatan promosi secara secara iklan yang sangat aktif tersebut adalah untuk dua tujuan , yaitu menarik pembeli baru dan mempertahankan pembeli lama.
BAB III
Pembahasan
Pasar oligopoli merupakan pasar yang terdiri dari
beberapa produsen (dua sampai dengan lima produsen), sedangkan apabila terdiri
dua perusahaan disebut duopoli.
Karakter pasar oligopoli, yaitu:
1. Perusahaan saling bersepakat untuk melakukan penentuan
harga dan jumlah produksi.
2. Perusahaan tidak saling melakukan kesepakatan.
Ciri-ciri pasar oligopoli
Ciri-ciri pasar oligopoli, yaitu:
1. Menghasilkan atau menjual barang standar atau barang
berbeda.
Menghasilkan barang standar misalnya perusahaan baja, aluminium. Sedangkan
yang menghasilkan barang berebda misalnya perusahaan mobil, truk, sepeda motor
dan sebagainya.
2. Kekuatan menentukan harga kadang-kadang lemah/kuat.
Apabila tanpa adanya kerjasama kekuatan menentukan harga sangat terbatas.
Suatu perusahaan menurunkan hargha, perusahaan lain akan membalas menurunkan
yang lebih besar lagi, sehingga keduanya akan sama atau kehilangan pelanggan.
3. Promosi masih diperlukan.
Kegiatan promosi bertujuan untukmeraih pembeli baru dan mempertahankan
pembeli lama, terutama pada perusahaan yang menghasilkan barang yang berbeda.
![]() |
Gambar 6.6. Kurva
permintaan terpatah (Kinked Demand Curve)
dalam oligopoli
1. Dalam pasar oligopoli apabila perusahaan menurunkan harga
ke P1 maka permintaan akan bertambah ke C1, harga ke P2
maka permintaan akan bertambah ke B1.
-
Pelanggan
perusahaan membeli barang yang harganya turun.
-
Pelanggan
lain membatalkan pembeliannya.
2. Sedangkan apabila perusahaan juga menurunkan harga ke P1
dan P2 perubahan permintaan akan ke titik B dan C.
3. Menaikkan harga ke P3 permintaan ada di titik
A1 karena reaksi perusahaan merubah harga maka kurva permintaan
menjadi D1ED2.
Hambatan memasuki pasar oligopoli
Faktor penting yang menyebabkan perusahaan lain tidak memasuki pasar
oligopoli, diantaranya:
1. Perbedaan biaya produksi, disebabkan karena:
a. Perusahaan yang berpengalaman dapat menurunkan biya
produksi karena memiliki kemampuan dan pengalaman berproduksi (masa lalu).
b. Produktifitas tinggi karena pekerja mempunyai masa kerja
yang cukup.
c. Perusahaan mempunyai hubungan baik dengan bank, sehingga
modal kerja mudah diperoleh untuk pembelian bahan yang lebih murah.
2. Hasil produksi yang istimewa
Keistimewaan suatu barang karena memiliki beberapa ciri-ciri, yaitu Product Recognition (terkenal).
Masyarakat sudah percaya dan sangat setia terhadap barang tersebut. Apabila
tidak memiliki keistimewaan lain sulit untuk menggeser konsumsi barang tadi,
contohnya adalah merk pakaian Gucci.
Struktur pasar
oligopoli bisa juga terjadi dalam industri di mana wilayah pasar suatu
perusahaan sangat kecil. Misalnya, industri pompa bensin. Dalam industri ini
hanya ada sedikit sekali penjual (pompa bensin) yang bersaing di dalam suatu
wilayah geografis yang kecil.
Oleh karena jumlah
penjual yang sedikit inilah maka saling pengaruh antara mereka bisa dimasukkan
dalam masalah penentuan harga/output dari oligopoli. Perhatikan duopoli, sebuah
bentuk khusus oligopoli, di mana ada dua perusahaan yang mengahasilkan suatu
produk tertentu.
Untuk sederhananya,
anggap bahwa produk tersebut hoogen dan para pembeli memilih produk di antara
kedua perusahaan tersebut semata-mata berdasarkan harganya. Anggap pula bahwa
kedua perusahaan tersebut menetapkan harga yang sama dan masing-masing
mempunyai pangsa (share) pasar yang sama. Sekarang misalkan perusahaan A
berusaha untuk meningkatkan penjualannya dengan cara menurunan harganya, maka
semua pembeli akan membeli produk perusahaan A tersebut dan perusahaan B akan
kehilangan pangsa pasar yang cukup besar. Untuk mempertahankan para pembelinya,
maka perusahaan B akan bereaksi dengan cara menurunkan harganya pula. Maka
tidak ada satu perusahaan pun yang bisa bertindak secara bebas. Tindakan yang
diambil suatu perusahaan pasti akan menimbulkan reaksi perusahaan lainnya.
Penentuan
Harga/Output Dalam Pasar Oligopoli
![]() |
Gambar 6.7. Kurva permintaan sebelum ada reaksi
Fenomena pergeseran
kurva-kurva permintaan ini dilukiskan dalam gambar 6.8. Perusahaan A
mula-mula menghasilkan output sebesar Q1 unit dan menjualnya dengan
harga P1. Kurva permintaan D1 yang berlaku di sini,
dengan mengasumsikan harga-harga yang ditetapkan oleh perusahaan-perusahaan
lain tidak berubah. Dengan asumsi tersebut, penurunan harga dari P1
menjadi P2 akan meningkatkan permintaan menjadi Q2.
Sekarang anggap bahwa hanya ada sejumlah kecil perusahaan yang beroperasi di
pasar dan masing-masing mempunyai pangsa pasar yang cukup besar terhadap
penjualan total. Oleh karena itu, jika suatu perusahaan menurunkan harganya dan
memperoleh kenaikan volume penjualan yang cukup tinggi, maka perusahaan-perusahaan
lainnya akan kehilangan sebagian besar volume usaha mereka. Kemudian, setelah
perusahaan-perusahaan tersebut mengetahui mengapa penjualan mereka turun, maka
mereka akan bereaksi dengan menurunkan harga produk mereka sendiri. Tindakan ini
akan menggeser perusahaan A turun ke kurva permintaan kedua D2 yang
menyebabkan penurunan permintaan perusahaan A dari Q2 menjadi Q3
pada tingkat harga P2. Kurva yang baru sama tidak stabilnya dengan
kurva mula-mula, oleh karena itu pengetahuan akan bentuk kurva tersebut tidak
berguna bagi perusahaan A: jika ia mencoba untuk bergerak sepanjang D2,
maka perusahaan-perusahaan pesaing akan bereaksi yang bisa memaksa perusahaan
tersebut berpindah ke kurva lainnya.
![]() |
Gambar 6.8. Kurva
permintaan setelah ada reaksi
Pergeseran kurva
permintaan tidak akan menimbulkan kesulitan yang berarti dalam pembuatan
keputusan tentang harga/output jika perusahaan A mengetahui secara pasti
bagaimana perusahaan saingannya terhadap perubahan-perubahan harga. Reaksi-reaksi
tersebut hanya akan mempengaruhi hubungan harga/permintaan dan sebuah kurva
permintaan yang baru bisa dibentuk untuk memasukkan interaksi-interaksi di
antara perusahaan-perusahaan. Kurva D3 dalam gambar 6.8 merupakan
sebuah kurva reaksi, ia menunjukkan bagaimana penurunan harga akan mempengaruhi
kuantitas yang diminta setelah reaksi perusahaan-perusahaan saingan
diperhitungkan. Namun demikian, permasalahan dalam pendekatan ini terletak pada
kenyataan bahwa ada banyak teori yang berbeda tentang perilaku antar perusahaan
dan mesin-mesin teori yang menghasilkan model penentuan harga yang berbeda
sehingga akan menghasilkan aturan-aturan pengambilan keputusan yang berbeda
pula.
Adapun Kelebihan dan Kekurangan dari
Pasar Oligopoli. Kelebihan dari pasar oligopoli adalah mendorong perkembangan
teknologi dan inovasi. Struktur pasar ini yang paling memberikan dorongan
terbesar dalam mengembangkan teknologi dan inovasi. Hal ini dikarenakan
perusahaan mendapat untung yang lebih dari normal dan menekankan persaingan
dimana sangat membahayakan kedudukan perusahaan dalam industri. Keuntungan yang
lebih disebabkan perusahaan baru sulit untuk memasuki pasar ini. Sehngga
keuntungan lebih normal berlangsung dalam jangka panjang dan perusahaan
memiliki dana yang cukup untuk kepentingan melakukan riset dalam mengembangkan
teknologi serta melakukan inovasi.
Selain itu melakukan pengembangan teknologi dan melakukan persaingan dalam pasar ini, sebab perusahaan tidak mungkin melakukan persaingan dalam harga. Terdapat sedikit penjual karena dibutuhkan biaya investasi yang besar, jumlah penjual yang sedikit membuat penjual dapat mengendalikan harga dalam tingkat tertentu, dan bila terjadi perang harga, konsumen akan diuntungkan serta adanya efisiensi dalam menjalankan produksi dan persaingan di antara perusahaan akan memberikan keuntungan bagi konsumen dalam hal harga dan kualitas barang.
Adapun kekurangan dari pasar ini adalah tidak adanya efisiensi dalam menggunakan sumber-sumber daaya. Efisiensi penggunaan sumber daya akan tercapai apabila ongkos marjinal sama dengan harga. Pada umumnya keadaan ini tidak dicapai pada pasar oligopoli. Tetapi jika dipandang dari sudut skala ekonomis yang mungkin diperoleh, terdapat kemungkinan bahwa perusahaan oligopoli akan memproduksi barang dengan ongkos yang lebih rendah daripada perusahaan yang ada dalam persaingan sempurna. Terdapat rintangan yang kuat untuk dapat masuk ke pasar oligopoli, akan terjadi perang harga dan produsen dapat melakukan kerja sama (kartel) yang pada akhirnya akan merugikan konsumen. Selain itu juga dibutuhkan investasi dan modal yang besar untuk memasuki pasar, karena adanya skala ekonomi yang telah diciptakan perusahaan sehingga sulit bagi pesaing baru untuk masuk ke dalam pasar, apabila terdapat perusahaan yang memiliki hak paten atas sebuah produk, maka tidak memungkinkan bagi perusahaan lain untuk memproduksi barang sejenis, perusahaan yang telah memiliki pelanggan setia akan menyulitkan perusahaan lain untuk menyainginya, adanya hambatan jangka panjang seperti pemberian hak waralaba oleh pemerintah sehingga perusahaan lain tidak memasuki pasar, adanya kemungkinan terjadinya kolusi antara perusahaan di pasar yang dapat membentuk monopoli atau kartel yang merugikan masyarakat.
Selain itu melakukan pengembangan teknologi dan melakukan persaingan dalam pasar ini, sebab perusahaan tidak mungkin melakukan persaingan dalam harga. Terdapat sedikit penjual karena dibutuhkan biaya investasi yang besar, jumlah penjual yang sedikit membuat penjual dapat mengendalikan harga dalam tingkat tertentu, dan bila terjadi perang harga, konsumen akan diuntungkan serta adanya efisiensi dalam menjalankan produksi dan persaingan di antara perusahaan akan memberikan keuntungan bagi konsumen dalam hal harga dan kualitas barang.
Adapun kekurangan dari pasar ini adalah tidak adanya efisiensi dalam menggunakan sumber-sumber daaya. Efisiensi penggunaan sumber daya akan tercapai apabila ongkos marjinal sama dengan harga. Pada umumnya keadaan ini tidak dicapai pada pasar oligopoli. Tetapi jika dipandang dari sudut skala ekonomis yang mungkin diperoleh, terdapat kemungkinan bahwa perusahaan oligopoli akan memproduksi barang dengan ongkos yang lebih rendah daripada perusahaan yang ada dalam persaingan sempurna. Terdapat rintangan yang kuat untuk dapat masuk ke pasar oligopoli, akan terjadi perang harga dan produsen dapat melakukan kerja sama (kartel) yang pada akhirnya akan merugikan konsumen. Selain itu juga dibutuhkan investasi dan modal yang besar untuk memasuki pasar, karena adanya skala ekonomi yang telah diciptakan perusahaan sehingga sulit bagi pesaing baru untuk masuk ke dalam pasar, apabila terdapat perusahaan yang memiliki hak paten atas sebuah produk, maka tidak memungkinkan bagi perusahaan lain untuk memproduksi barang sejenis, perusahaan yang telah memiliki pelanggan setia akan menyulitkan perusahaan lain untuk menyainginya, adanya hambatan jangka panjang seperti pemberian hak waralaba oleh pemerintah sehingga perusahaan lain tidak memasuki pasar, adanya kemungkinan terjadinya kolusi antara perusahaan di pasar yang dapat membentuk monopoli atau kartel yang merugikan masyarakat.
Dampak negatif oligopi terhadap
perekonomian:
·
Keuntungan
yang yang terlalu besar bagi produsen dalam jangka panjang
·
Timbul
inifisiensi produksi
·
Eksploitasi
terhadap konsumen dan karyawan perusahaan
·
Harga
tinggi yang relatif stabil (sulit turun) menunjang inflasi yang kronis
·
Kebijakan
pemerintah dalam mengatasi oligopoli
·
Pemerintah
mempermudah masuknya perusahaan baru untuk masuk kepasar untuk menciptakan
persaingan
·
Diberlakukannya
undang-undang anti kerja sama antar produsen.
Sifat-sifat
pasar oligopoli :
-
Harga produk yang dijual relatif sama
-
Pembedaan produk yang unggul merupakan kunci sukses
-
Sulit masuk ke pasar karena butuh sumber daya yang besar
-
Perubahan harga akan diikuti perusahaan lain
TUJUAN PERUSAHAAN: MAKSIMISASI
PROFIT DAN ALTERNATIF
1.
Sifat Perusahaan
Perusahaan:
Suatu unit kegiatan produksi yang mengolah sumber ekonomi menjdai barang &
jasa. Setiap individu memberikan input yang berbeda dengan reward yang berbeda.
1
TK bernegosiasi jam kerja,
aturan kerja dan upah
2 Pemili
modal bernegosiasi cara penggunaan kapital dan kompensasinya
2. Goal
Perusahaan
Hub.
antar penyedia input (Tk, pemilik modal, dll) masalah bagi ekonomi utk
mengembangkan teori perilaku perusahaan.
Pendekatan
holistic menganggap perusahaan sbg satu unit decision making yg diwakili oleh
manajer diktator tunggal utk mencapi goal tertentu. Apa goal yang ingin dicapai
oleh manajer
3.
Maksimisasi profit
Goal
mencapai profit ekonomi yg maksimal (selisih maksimal total pendapatan dengan
total biaya ekonomi).
Business
profit pendapatan penjualan – biaya eksplisit perusahaan
Economic profit business profit – implicit
costs of equity and other owner provided inputs used by the firm
Implicit
costs: Tingkat ROE normal (untuk menarik dan mempertahankan investasi tertentu)
dan biaya peluang untuk usaha dari pemilik-pengusaha sebagai biaya pelaksanaan
bisnis
4. Maksimisasi profit dan
Marginalism
Firm sbg profit maximizers, maka incremental profit
diperoleh dari tambahan satu unit output atau tambahan profit dari tambahan
satu tenaga kerja.
Hubungan maksimisasi profit
dan marginalism:
П(Q) = R(Q) –C(Q)
R: revenue dan C: biaya
ekonomi
Jumlah (Q) output diproduksi
pada tingkat П(Q) maksimal.
5. Marginal revenue dan Cost
Pada gambar tsb:
1 Output <Q* kenaikan output
∆R > ∆C
2 Output = Q* profit maksimum
MR = MC
3 Output > Q* Profit
menurun
6. Marginalism dalam pilihan
input
Maksimisasi
profit ∆C = ∆R
1
Tambahan tk, tambahan biaya tk
= tambahan revenue
2
Tambahan sewa mesin = tambahan
pendapatan
7. Marginal Revenue (MR)
MR tambahan revenue dari
tambahan penjualan 1 unit output
1 Jika perusahaan = price
taker, maka harga pasar menjadi revenue ekstra dari penjualan 1 unit produk
Perusahaan menjual 100 unit @ Rp 100.000, jika
perusahaan menjual 1 unit produk lagi, maka MR = 1.000.000 (11.000.000 –
10.000.000).
MR=P
2 Jika
perusahaan menghadapi kurva demand dg slop menurun, maka perusahaan harus
menurunkan harga jika ingin menjual 1 tambahan produk.
Perusahaan menjual 100 unit @ Rp 100.000, jika
perusahaan menjual 1 unit produk lagi dengan harga Rp 90.000, maka MR = 90.000
(10.090.000 – 10.000.000).
MR < P
Contoh: Perusahaan menghadapi kurva permintaan dg
slop menurun.
Q = 10 – P
P
|
Q
|
TR
|
MR
|
10
|
0
|
0
|
|
9
|
1
|
9
|
9
|
8
|
2
|
16
|
7
|
7
|
3
|
21
|
5
|
6
|
4
|
24
|
3
|
5
|
5
|
25
|
1
|
4
|
6
|
24
|
-1
|
3
|
7
|
21
|
-3
|
2
|
8
|
16
|
-5
|
1
|
9
|
9
|
-7
|
0
|
10
|
0
|
-9
|
3 TR
maksimum Q = 5 dan P = 5
4 Q >
5 TR turun dan MR negatif
ANALISIS PERMINTAAN
Dalam banyak hal, factor yang
paling menentukan profitabilitas perusahaan adalah permintaan produk itu sendiri.
Perusahaan tidak ada gunanya beroperasi secara efisien dan memiliki eksekutif
keuangan yang ahli, director personalia dan director utama, preusan tidak akan
memperoleh keuntungan, jika permintaan untuk produk yang dihasilkan tidak
memiliki permintaan, kecuali preusan dapat menemukan dan menghasilkan produk
yang memiliki permintaan.
Mengingat pentingnya peran
permintaan sebagai factor penentu keuntungan perusahaan, maka perusahaan harus
memiliki informasi yang tepat dan akurat mengenai permintaan atas produk untuk
pengambilan keputusan jangka panjang yang efektif dan keputusan operasi jangka
pendek. Misalnya untuk menentukan harga produk secara efektif, manajer harus
mengetahui bagaimana perubahan harga dapat mempengaruhi kuantitas produk yang
diminta. Manajer juga harus mengetahui bagaimana persyaratan kredit dapat juga
mempengaruhi permintaan untuk menilai usulan kebijakan kredit. Estimasi yan
baik terhadap sensitivitas permintaan baik untuk perubahan populasi maupun
pendapatan masyarakat akan membantu suatu perusahaan dalam melakukan analisis
potensi pertumbuhan pada masa yang akan dating, yang merupakan hal penting
dalam menciptakan keberhasilan program jangka panjang.
Keputusan produksi sangat dipengaruhi oleh karakteristik permintaan produk
perusahaan. Permintaan produk yang bersifat stabil dapat menjadikan pelaksanaan
produksi secara terus menerus dan jangka panjang. Jika sifat permintaan produk
tersebut berfluktuasi, maka proses produksi yang fleksibel harus digunakan atau
kebijakan persediaan yang besar harus diambil. Kondisi permintaan di pasar
produk juga mempengaruhi kebutuhan tenaga kerja dan modal. Jika permintaan
produk sangat kuat dan tumbuh, maka manajer keuangan harus mengatur pendanaan
kebutuhan modal yang semakin besar bagi perusahaan dan direktor personalia
harus mengatur penarikan tenaga kerja dan pelatihannya agar dapat menghasilkan
dan manjual produk perusahaan dengan baik.
Permintaan produk juga berperan penting dalam penentuan struktur pasar yang
dimasuki perusahaan. Demikian juga dengan sifat persaingan. Karakteristik
permintaan seperti jumlah pembeli potensial dan keinginan konsumen untuk
menerima produk pengganti merupakan faktor yang penting dalam penentuan tingkat
persaingan untuk pasar produk tertentu.
Permintaan merupakan masalah yang kompleks dan harus dipahami oleh manajer
agar dapat mencapai tujuan perusahaan.
DASAR PERMINTAAN KONSUMEN.
Kemampuan produk dan jasa dalam memuaskan keinginan konsumen merupakan
dasar bagi permintaan konsumen.
1.
Fungsi Utiliti.
Suatu fungsi utiliti adalah pernyataan diskriptif yang menghubungkan antara
total utiliti/kepuasan/kemakmuran dengan konsumsi produk dan jasa. Fungsi
utiliti dibentuk melalui selera dan prefernsi konsumen dan melalui kuantitas
dan kualitas produk.
Konsep fungsi utilitas dapat digambarkan dengan menggunakan 2 produk. Kedua
jenis produk sangat berkaitan seperti tiket sepakbola dan tiket bola voli atau
tidak berkaitan seperti pakaian dan perawatan kesehatan. Satu-satunya
persyaratan adalah setiap produk dapat memuaskan keinginan konsumen atau setiap
produk menyediakan uitiliti/kepuasan. Fungsi utiliti dapat ditulis sebagai
berikut:
Utiliti = f (produk, jasa)
Tabel 4.1 mencerminkan fungsi utiliti dari 2 produk. Setiap unsur
menunjukkan jumlah utiliti yang dihasilkan dari konsumsi setiap kombinasi
produk dan jasa.
Produk
(Y)
|
Jasa (X)
|
|||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
|
1
|
25
|
36
|
46
|
55
|
63
|
70
|
76
|
81
|
85
|
88
|
2
|
37
|
48
|
58
|
67
|
75
|
82
|
88
|
93
|
97
|
100
|
3
|
47
|
58
|
68
|
77
|
85
|
92
|
98
|
103
|
107
|
110
|
4
|
55
|
66
|
76
|
85
|
93
|
100
|
106
|
111
|
115
|
118
|
5
|
62
|
73
|
83
|
92
|
100
|
107
|
113
|
118
|
122
|
125
|
6
|
68
|
79
|
89
|
98
|
106
|
113
|
119
|
124
|
128
|
131
|
7
|
73
|
84
|
94
|
103
|
111
|
118
|
124
|
129
|
133
|
136
|
8
|
77
|
88
|
98
|
107
|
115
|
122
|
128
|
133
|
137
|
140
|
9
|
79
|
90
|
100
|
109
|
117
|
124
|
130
|
135
|
139
|
142
|
10
|
80
|
91
|
101
|
110
|
118
|
125
|
131
|
136
|
140
|
143
|
Dari tabel diatas tampak bahwa untuk konsumsi 3 unit produk Y dan 3 unit
jasa X memberikan utiliti sebesar 68
unit kepuasan. Konsumsi 1 unit produk Y dan 10 unit jasa X memberikan utiliti sebesar 88 unit kepuasan
dan seterusnya.
Utiliti dari konsumsi produk dan jasa merupakan sesuatu yang tidak dapat
dilihat. Namun demikian, konsumen dapat memberikan preferensnya melalui
keputusan pembelian dan memberikan bukti kepuasan yang nyata yang mereka
peroleh dari produk dan jasa tersebut.
2.
Utiliti Marginal.
Utiliti marginal adalah tambahan kepuasan dari tambahan konsumsi 1 unit
produk atau jasa dengan menganggap konsumsi produk yang lain tidak berubah.
Utiliti marginal akan cenderung menurun pada saat konsumsi suatu produk
meningkat dalam interval waktu tertentu.
Ayam Goreng
|
Total Utiliti
(U)
|
Utiliti
Marginal
MUA
=
|
Harga Ayam Maksimum
Rp 9.000 pe MUA
|
0
|
0
|
|
|
1
|
9
|
9
|
Rp 9.000
|
2
|
17
|
8
|
Rp 8.000
|
3
|
24
|
7
|
Rp 7.000
|
4
|
30
|
6
|
Rp 6.000
|
5
|
35
|
5
|
Rp 5.000
|
6
|
39
|
4
|
Rp 4.000
|
7
|
42
|
3
|
Rp 3.000
|
8
|
44
|
2
|
Rp 2.000
|
9
|
45
|
1
|
Rp 1.000
|
10
|
45
|
0
|
Rp 0
|
Berdasarkan tabel diatas
menggambarkan utiliti/kepuasan Tn A yang mengkonsumsi ayam goring. Utiliti marginal Tn A dari
mengkonsumsi ayam goreng pertama adalah 9 unit (MUAG= 9). Utiliti marginal untuk konsumsi ayam goreng
ke dua adalah 8 unit, konsumsi ayam goreng ke tiga adalah 7 unit dan
seterusnya.
Jika harga ayam goreng 1 unit adalah Rp 9.000, maka biaya utiliti per unit
dari mengkonsumsi ayam goreng pertama adalah Rp 9.000/9 = Rp 1.000 unit unit,
ayam goreng kedua adalah Rp 1.125 per unit, ayam goreng ketiga adalah Rp 1.285
dan seterusnya. Dengan demikian, semakin meningkat utiliti marginal dari
mengkonsumsi ayam goreng, maka semakin meningkat biaya per utilitinya. Jika Tn
A mempunyai peluang konsumsi alternatif yang memberikan satu unit tambahan
utiliti untuk setiap Rp 1.000, dia akan menambah jumlah ayam goreng yang
dibeli, jika hanya harga ayam goreng
tersebut menurun. Jika trade off antara harga – utiliti marginal yang
disyaratkan oleh Tn A adalah Rp 1.000, maka dia akan membayar harga Rp 9.000
untuk 1 ayam goreng. Namun demikian, harga ayam goreng yang kedua harus menjadi
Rp Rp 8.000, harga ayam goreng yang ketiga adalah Rp 7.000 dan seterusnya. Hal
ini dapat digambarkan dalam kurva permintaan sebagai berikut:

3.
Hukum Utiliti Marginal yang
Menurun.
Secara umum, hukum utiliti marginal yang semakin menurun menyatakan bahwa
pada saat seseorang menambah konsumsi suatu produk, maka utiliti marginal yang
diperoleh dari mengkonsumsi akan semakin menurun. Hukum ini menimbulkan kurva
permintaan dengan slop yang menurun tidak hanya untuk ayam goreng, tapi juga
untuk produk dan jasa yang lain. Hukum utiliti marginal yang menurun ini
digambarkan dalam tabel berikut ini dengan data dari tabel 4.1:
Kuantitas
|
Produk (Y)
|
Jasa (X)
|
||
Utiliti Total
|
Utiliti
Marginal
|
Utiliti Total
|
Utiliti
Marginal
|
|
1
|
55
|
|
25
|
|
2
|
67
|
12
|
36
|
11
|
3
|
77
|
10
|
46
|
10
|
4
|
85
|
8
|
55
|
9
|
5
|
92
|
7
|
63
|
8
|
6
|
98
|
6
|
70
|
7
|
7
|
103
|
5
|
76
|
6
|
8
|
107
|
4
|
81
|
5
|
9
|
109
|
2
|
85
|
4
|
10
|
110
|
1
|
88
|
3
|
Pada saat jasa berada pada konsumsi 4 unit, maka utiliti marginal dari
konsumsi produk menurun dengan konsumsi setiap unit secara terus menerus.
Demikian juga dengan konsumsi jasa tunduk pada hukum ini. Dengan mempertahankan
konsumsi produk 1 unit, maka utiliti marginal dari konsumsi jasa menurun dengan
konsumsi setiap unit secara terus menerus.
PILIHAN KONSUMEN.
Keputusan untuk menkonsumsi produk secara individu sangat jarang dilakukan.
Individu mengkonsumsi produk sebagai bagian dari keranjang belanja dari produk
dan jasa dengan keduanya dapat saling mensubstitusi. Misalnya, seorang
eksekutif mungkin memiliki beberapa pakaian dan mencuci dengan frkuensi jarang
jarang, karena banyak pakaian yang dimiliki atau dia memiliki sedikit pakaian
dengan mencuci pakaian dengan frekuensi yang sering. Pada contoh pertama,
eksekutif ini telah membeli keranjang belanja dengan proporsi pengeluaran yang
besar untuk pakaian dan proporsi sedikit pada jasa pencucian. Untuk contoh
kedua, keranjang belanja lebih banyak dipenuhi/diisi pengeluaran untuk
penciucian dan lebih sedikit untuk pakaian.
1.
Kurva Indiferen.
Dengan berbagai kombinasi alternatif produk dan jasa yang ada, maka banyak
keranjang belanja dapat dibuat yang memberikan tingkat utiliti yang sama bagi
konsumen. Kurva indiferen adalah seluruh keranjang belanja yang tidak berbeda
bagi konsumen.
Untuk menggambarkan kurva indiferen berikut ini disajikan kurva dengan
utiliti yang sama yang datanya diambil dari tabel 4.1.
Utiliti 100
|
Utiliti 118
|
||
Produk (Y)
|
Jasa (X)
|
Produk (Y)
|
Jasa (X)
|
2
|
10
|
4
|
10
|
4
|
6
|
5
|
8
|
5
|
5
|
7
|
6
|
9
|
3
|
10
|
5
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

Tingkat kepuasan 100 unit dapat
dicapai dengan mengkonsumsi kombinasi: 3 jasa dan 9 produk, 5 jasa dan 5
produk, 6 jasa dan 4 produk, dan 10 jasa dan 2 produk. Semua kombinasi pada titik-titik ini yang merupakan kurva
indiferen memberikan kepuasan yang sama pada tingkat 100 unit. Tingkat kepuasan
118 unit dapat dicapai dengan mengkonsumsi kombinasi: 5 jasa dan 10 produk, 6
jasa dan 7 produk, 8 jasa dan 5 produk, dan 10 jasa dan 4 produk. Semua
kombinasi pada titik-titik ini yang merupakan kurva indiferen memberikan
kepuasan yang sama pada tingkat 118 unit.
2. Marginal Rate
of Substitution (MRS).
Slope kurva indiferen merupakan
perubahan dalam produk Y (dY) dibagi dengan perubahan jasa X (dX). Hubungan ini
disebut dengan marginal rate of substitution yang merupakan perubahan dalam
konsumsi produk Y yang diperlukan untuk mengimbangi perubahan tertentu dari
konsumsi jasa X, jika seluruh tingkat utiliti tidak berubah. Slop ini secara
aljabar dapat dinyatakan sebagai berikut:
MRS = == slope
kurva indiferen
MRS biasanya tidak constan, tapi menurun seiring dengan peningkatan jumlah
substitusi. Misalnya pada gambar diatas, pada saat jumlah jasa X yang
diperlukan untuk menggantikan sejumlah produk Y terus menurun. Dengan kata
lain, semakin banyak jasa X yang disubstitusikan untuk produk Y, jumlah produk
yang diperlukan untuk mengkompensasi kehilangan sejumlah jasa terus menurun.
Hal ini berarti bahwa slop negatif dari setiap kurav indiferen cenderung
mendekati nol seiring dengan perpindahan dari kiri kekanan.
Hubungan substituís produk yang ditunjukkan oleh slop kurva indiferen
berhubungan dengan konsep Utiliti Marginal yang Menurun. Hal ini karena MRS
sama dengan -1 dikalikan dengan rasio Utiliti Marginal yang berasal dari
konsumsi setiap produk.
MRS = -1 ()
Kehilangan utiliti berhubungan dengan penurunan kecil Y sama dengan utiliti
marginal Y (MUY), dikalikan
dengan perubahan Y (ΔY).
ΔU = MUY x ΔY
Kuantitas
(Y)
|
Produk (Y)
|
|
Utiliti Total
|
Utiliti
Marginal
|
|
1
|
55
|
|
2
|
67
|
12
|
3
|
77
|
10
|
4
|
85
|
8
|
5
|
92
|
7
|
Utiliti Total dari kuantiítas ke1 adalah 55 dan ke 2 adalah 67, sehingga
ΔU = MUY x ΔY
= 12 x 1
= 12
Demikian juga dengan perubahan utiliti berkenaan dengan perubahan konsumsi
X ádalah:
ΔU = MUx x ΔX
Sepanjang kurva indiferen, nilai absolut ΔU harus sama dengan substitusi Y
untuk X. Dengan kata lain, oleh karena utiliti tidak berubah sepanjang kurva
indiferen, maka kehilangan utiliti yang mengikuti penurunan Y harus diimbangi
dengan keuntungan/penambahan utiliti berkenaan dengan peningkatan X.
-(MUx x ΔX) =
MUy x ΔY
- =
MRSxy = Slop kurva indiferen
Jadi slop kurva indiferen yang sama dengan ditentukan oleh rasio utiliti marginal yang diturunkan
dari setiap produk.
3. Budget Line
(Garis Anggaran)
Konsep garis anggaran perli dipahami untuk lebih mendalami keputusan
consumen. Garis anggaran mencerminkan seluruh kombinasi produk yang dapat
dibeli dalam jumlah anggaran tertentu.
Jumlah pengeluaran untuk produk
sama dengan hasil kali antara harga produk y (Py) dengan kuantiítas
produk Y (QY). Demikian juga dengan pengeluaran untuk jasa merupakan perkalian
antara harga jasa (Px) dengan cuantiítas jasa (Qx).
Total anggaran = Pengeluaran untuk produk Y + Pengeluaran untuk Jasa X
= Py Qy + Px Qx
Berikut ini disajikan contoh.
Py =Rp 250 per unit dan Px = Rp 100 per unit dengan anggaran Rp 1.000, Rp
1.500, dan Rp 2.000
Qy = = 4 unit
Jika anggaran digunakan untuk membeli
jasa X, maka akan diperoleh jasa X sebanyak:
Qy = = 10 unit
Dari data tersebut, maka garis anggaran yang relevan dapat ditulis sebagai
berikut:
B = 250 Y + 100 X
Berikut ini disajikan jumlah produk dan jasa yang dapat diperoleh dengan
setiap jumlah anggaran.
Anggaran Rp 1.000
|
Anggaran Rp 1.500
|
Anggaran Rp 2.000
|
|||
Produk
|
Jasa
|
Produk
|
Jasa
|
Produk
|
Jasa
|
4
|
0
|
6
|
0
|
8
|
0
|
0
|
10
|
0
|
15
|
0
|
20
|
|
|

Anggaran Rp 1.000 tidak cukup untuk membeli keranjang belanja yang terletak
pada U1=100 atau U2 =118
Pengeluaran minimum sebesar Rp 1.500 diperlukan untuk mencapai tingkat
utiliti U1 = 100 dan pengeluaran minimum diperlukan untuk mencapai tingkat
utiliti U2 = 118.
Pengaruh kenaikan anggaran adalah perubahan garis anggaran kekanan atas dan
sebaliknya penurunan anggaran berpengaruh terhadap garis anggaran ke kiri
bawah. Selama harga produk dan jasa tidak berubah, maka garis anggaran akan
tetap paralel dan slop anggaran ini akan tetap konstan.
Pengaruh perubahan harga dapat ditunjukkan pada contoh berikut ini.
Misalnya harga produk y turun dari Rp 250 menjadi Rp 150 dan menjadi Rp 75,
sedangkan harga jasa tidak berubah dengan anggaran Rp 1.500. Semakin turun
harga suatu produk atau jasa, maka semakin banyak produk atau jasa yang
diperoleh dengan anggaran yang tertentu.
Anggaran Rp 1.500
|
|||||
Produk
Rp 250
|
Jasa
Rp 100
|
Produk
Rp 150
|
Jasa
Rp 100
|
Produk
Rp 75
|
Jasa
Rp 100
|
4
|
0
|
12
|
0
|
24
|
0
|
0
|
15
|
0
|
15
|
0
|
15
|


|
|

Jadi maksimum produk yang dapat diperoleh dengan harga produk Rp 250 per
unit adalah 6 unit, dengan harga Rp 150 per unit adalah 12 unit, dan dengan
harga Rp 75 per unit adalah 24 unit.
4. Pengaruh
Pendapatan dan Substitusi
Pada saat harga produk berubah, konsumen terpengaruh dalam dua hal:
a). Pengaruh pendapatan (Income Effect) yakni peningkatan (penurunan)
seluruh konsumsi yang dilakukan sebagai
akibat dari penurunan (kenaikan) harga. Pengaruh pendapatan ini menghasilkan
perubahan pada kurva indiferen yang lebih tinggi mengikuti penurunan harga dan
sebaliknya.
b). Pengaruh substitusi (Substitution Effect) yakni perubahan konsumsi
secara relatif yang terjadi pada saat konsumen mengganti produk yang lebih
mahal dengan produk yang berharga lebih murah. Pengaruh substitusi ini
menghasilkan pergerakan menaik (menurun) sepanjang kurva indiferen tertentu.
Jika diketahui PY = Rp 250 per unit dan PX = Rp 100
per unit dengan U1 = 100 merupakan tingkat
kepuasan yang tertinggi yang dapat dicapai dengan anggaran sebesar Rp 1.500.
Hal ini menjadikan konsumsi jasa sebanyak 10 unit dan produk sebanyak 2 unit.

Pada saat harga produk turun menjadi Rp 140 per unit, konsumen mempunyai kemungkinan untuk konsumsi
untuk jasa sebanyak 8 unit dan produk sebanyak 5 unit dengan tingkat
kepuasan/utiliti meningkat dari U1 = 100 menjadi U2 = 118. Perubahan dalam konsumsi
ini melibatkan 2 komponen:
a). Pengaruh substitusi yakni pergerakan kekiri sepanjang kurva indiferen
pada U1 = 100 ke titik B yang bersinggungan dengan garis anggaran
hipotetis putus-putus yang mencerminkan harga baru untuk produk dan jasa, tapi
bukan keuntungan pendapatan.
b). Pengaruh pendapatan yakni pergerakan dari titik b pada U1 =
100 ke titik C pada U2 = 118.
Sumber :
Henderson, J.M. and R.E. Quandt. Microeconomic Theory: A
Mathematical
Approach. Third Edition, McGraw-Hill International Book Company.
Koutsoyiannis, A. 1985. Modern Microeconomics. ELBS Edition, Macmillan
Publishers Ltd, London.
Nicholson, Walter. 1999. Teori Mikroekonomi. Alih bahasa: Daniel
Wirajaya, Edisi
ke-5, Binarupa Aksara, Jakarta.
Rosidi, Suherman. 2000. Pengantar Teori Ekonomi. Pendekatan kepada
Teori
Makro & Mikro. Cetakan ke-4, PT Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Sukirno, Sadono. 2001. Pengantar Teori Mikroekonomi. Cetakan
ke-15, PT Raja
Grafindo Persada, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar